Sejarah syiar Islam dan pendidikan di Dusun Gendir, Kelurahan Banjarsengon, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, adalah sebuah potret pengabdian lintas generasi yang tak terputus. Di balik kokohnya Yayasan Pendidikan dan Dakwah Islam Al Muttaqin, terdapat garis perjuangan empat tokoh utama yang menyatukan semangat kerja keras, pengabdian, dan ketulusan hati.
Silsilah Perjuangan Antar Generasi
- H. Abdulah Yahya & Nyai Hj. Wari : Sang Perintis (Babat Tanah) Segalanya bermula dari sosok H. Abdulah Yahya, sang pelopor yang dikenal masyarakat sebagai sosok yang "babat tanah" di Dusun Gendir. Beliau bukan hanya membuka lahan secara fisik, tetapi juga meletakkan fondasi spiritual dan kemasyarakatan yang kuat bagi penduduk setempat.
- H. Ikrom & Nyai Hj. Fathani : Sang Penjaga Amanah Estafet pengabdian ini kemudian dilanjutkan oleh H. Ikrom. Di bawah naungan beliau, tradisi religius dan keguyuban warga Gendir terus dirawat, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya nilai-nilai dakwah Islam di tengah masyarakat.
- KH Baidhowi & Nyai Siseh: Sang Pendiri & Formalitas Yayasan (1993) Memasuki tahun 1993, perjuangan ini mencapai titik balik bersejarah melalui tangan Almaghfurlah KH Baidhowi dan istrinya, Nyai Hj Romlah (Nyai Siseh). Menyadari pentingnya wadah formal, KH Baidhowi mengambil langkah besar dengan melegalkan institusi ini menjadi Yayasan Pendidikan dan Dakwah Islam Al Muttaqin. Langkah ini memastikan dakwah di Gendir memiliki struktur yang diakui dan berkelanjutan.
- KH. Miftahul Khoir & Nyai Saidah : Pengasuh Masa Kini Tongkat estafet perjuangan kini berada di tangan KH. Miftahul Khoir sebagai pengasuh saat ini. Beliau melanjutkan visi besar para pendahulu, membawa Yayasan Al Muttaqin terus berkembang menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan sejak masa H. Abdulah Yahya.
Warisan yang Terus Bertumbuh
Dari pembukaan lahan oleh H. Abdulah Yahya hingga kepengasuhan KH. Miftahul Khoir, Yayasan Al Muttaqin kini berdiri tegak sebagai pusat peradaban Islam di Kelurahan Banjarsengon. Semangat para tokoh ini tetap hidup dalam setiap aktivitas belajar-mengajar dan lantunan doa yang bergema, menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi para pejuang tanah Gendir.


0 Comments:
Posting Komentar