Kabupaten Jember, khususnya wilayah Kecamatan Patrang, menyimpan jejak sejarah perjuangan dakwah yang mendalam. Salah satu titik penting dalam peta sejarah tersebut adalah Dusun Gendir, Kelurahan Banjarsengon. Di sanalah berdiri sosok KH. Abdullah Yahya bersama istrinya, Ny. Hj. Wari (Ny. Hj. Yahya), sebagai tokoh utama yang "babat tanah" atau merintis jalan bagi tegaknya pendidikan Islam.
1. Sosok Perintis: Babat Tanah Gendir
Istilah "babat tanah" bukan sekadar membuka lahan secara fisik, melainkan perjuangan spiritual dan sosial dalam menata masyarakat. KH. Abdullah Yahya dikenal sebagai sosok yang memiliki visi jauh ke depan. Beliau memahami bahwa untuk memajukan umat, pendidikan adalah kunci utama.
Bersama Ny. Hj. Wari, beliau meletakkan batu pertama perjuangan di Dusun Gendir. Ny. Hj. Wari bukan hanya sekadar pendamping, melainkan pilar kekuatan dalam mendidik santri, sehingga keduanya menjadi dwitunggal yang tak terpisahkan dalam sejarah YPDI Al Muttaqin.
2. Cikal Bakal YPDI Al Muttaqin
Yayasan Pendidikan Dakwah Islam (YPDI) Al Muttaqin yang kita kenal hari ini adalah buah dari benih yang mereka tanam. Di tengah keterbatasan fasilitas pada masa itu, beliau berdua berhasil menciptakan lingkungan belajar santri yang pada saat itu masih musholla biasa, yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan yang disegani di wilayah Banjarsengon dan sekitarnya.
- Fokus Perjuangan: Dakwah Islamiyah, pengajaran Al Qur'an, dan pembentukan karakter masyarakat yang religius.
- Warisannya: Institusi yang terus mencetak generasi berakhlakul karimah hingga saat ini.
3. Akhir Hayat dan Estafet Perjuangan
KH. Abdullah Yahya wafat pada tahun 1968. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan mendalam, namun juga meninggalkan warisan yang abadi berupa ilmu dan institusi pendidikan. Meskipun beliau telah tiada, semangat "Al Muttaqin" tetap hidup melalui keturunan dan para santri yang melanjutkan estafet perjuangan dakwah beliau.
Hingga saat ini, makam dan peninggalan beliau menjadi pengingat bagi warga Patrang, khususnya Banjarsengon, akan pentingnya kegigihan dalam menyebarkan syiar Islam.
KH. Abdullah Yahya dan Ny. Hj. Wari adalah simbol ketulusan pengabdian. Tanpa langkah kaki mereka di tanah Gendir puluhan tahun silam, wajah pendidikan Islam di Kelurahan Banjarsengon mungkin tidak akan secerah sekarang. Semoga amal ibadah beliau berdua senantiasa mengalir sebagai amal jariyah yang tak terputus.

Amiin...
BalasHapusMaqbaroh Allah yarham KH. Abdullah Yahya & Almh Nyai Hj. Dari terletak di manakah?
BalasHapus